Jumat, 26 Agustus 2011

Denpasar Kota Bali

Denpasar adalah ibukota Propinsi Bali sejak tahun 1960; dahulu adalah ibu kota kerajaan Badung yang mengontrol wilayah bagian selatan Pulau Bali dari akhir abad ke-18 sampai ditaklukannya oleh Belanda pada tahun 1906. Wilayahnya meliputi wilayah kabupaten Badung, tetapi setelah terbentuk kota madya (sekarang menjadi kota), wilayahnya tinggal setengahnya.Denpasar adalah tempat kantor Gubernur Bali beserta semua kantor-kantor, baik swasta maupun kantor pemerintahan yang penting seperti: telekomunikasi, kantor pos, bank, airline, dan rumah sakit. 
Di ujung jalan Gajah Mada, tepatnya di tengah perempatan dibangun sebuah patung yang bernama patung Catur Muka yang bermuka emapat yang mengawasi empat mata arah angin: utara, timur, selatan dan barat. Patung ini dibuat pada tahun 1972. pembangunan patung ini adalah untuk memperingati puputan Badung yang terjadi pada tanggal 20 September 1906. Alun-alun yang terletak di sebelah tenggara patung catur muka dinamakan lapangan Puputan Badung dimana raja badung dengan rakyatnya berperang sampai titik darah penghabisan melawan penjajah belanda.

Di sebalah Utara lapangan puputan Badung berdiri megah kantor jaya shaba yaitu kantor dimana gubernur bali menerima tamu-tamu penting malam budaya dengan menyajikan tarian-tarian terbaik. Di sebelah Timur lapangan puputan badung di bangun sebuah pura pada tahun 1968, yaitu pura jagatnatha. pura ini adalah pura umum untuk memuja Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. terutama setiap purnama umat Hindu di denpasar datang berjubel untuk melakukan persembahyangn di pura ini.


Di sebelah selatan pura terdapat musium bali yang dibangun pada tahun 1931 oleh arsitek Curt Grundler. Arsitekturnya adalah sebuah kombinasi antara pura dan istana kerajaan. musium ini berisi koleksi benda-benda seni atau artefak dari zaman prasejarah sampai jaman modern. Tempat lain yang menjadi objek wisata adalah puri pemecutan. di areal puri in sekarang terdapat penginapan untuk turis. Puri ini di bangun sesuai dengan aslinyasetelah dihancurkan oleh pasukan artileri Belanda pada tahun 1906. Di puri ini disimpan gambelan emas yang terkenal sebagai warisan kerajaan.

Baca Selengkapnya ...

Museum Bali

Musium bali terletak di Jalan Mayor Wisnu, Denpasar. Loksinya sangat srtategis, mudah dicari, karena didekatnya terdapat bangunan-bangunan dan tempat penting. Di sebelah utaranya terletak Pura Jagatnatha, didepannya terletak lapangan Puputan Bandung serta patung empat muka (Catur Mukha).


Pembangunan museum diawali oleh adnya pemerkasa betapa amat pentingnya warisan budaya bali sekaligus kebudayaan Balinya untuk di jaga, diselamatkan kelestariannya dan keajegannya. Prakasa tersebut dilandasi adanya rasa khawatir, bahwa ada gejala semacam erosi kebudayaan, sehingga warisan budaya tersebut menjadi punah, hilang, yang tinggal hanya foto dokumentasi saja.

Untuk menyelamatkan warisan budaya Bali tersebut, muncullah rencana pendirian sebuah museum yang nantnya menjadi Museum Bali. Perncanaan awal sebagai pemerakasa pendiri Museum Bali adalah pejabat Belanda, Raja-raja Bali, pemuka masyarakat, para seniman, antara lain: WFJ Kroon (asisten Residen Belanda), seorang Arsitek Jerman yaitu Curt Grundler, I Gusti Alit Ngurah (Bestuurder Penegara Badung), I Gusti Bagus Jelantik (Raja Karangasem), I Gusti Ketut Jelantik (Raja Buleleng), Raja Tabanan, dan para seniman seperti I Gusti Ketut Kandel, I Gusti Ketut Rai. Pernccanaan tersebut terjadi pada tahun 1910 dengan konsep dasar struktur bangunan musium Bali yaitu perpaduan struktur bangunan Pura (tempat suci) dan Puri (keraton).

Setelah disepakati konsep struktur bangunan museum tersebut, maka didirikanlah bangunan induk yang baru bisa diselesaikan pada tahun 1925. Oleh karena koleksi benda-benda yang berhasil dikumpulkan atau yang dimiliki dipandang belum memadai, maka selama kurang lebih 7 tahun (tahun 1925-1932) bangunan induk yang telah berdiri difungsikan untuk pameran berkala. Para pakar yang berjasa di dalam menelitii benda-benda yang dijadikan koleksi Musium Bali, antara lain: DR.W.F. stutterheim, G.I. Garder, G.M. Hendrikss, DR.R. Goris dan pelukis Walter Spies.

Museum Bali pada mulanya ditangani oleh sebuah yayasan yaitu Yayasan Bali Museum dan dibuka secara resmi pada tanggal 8 Desember 1932 dengan nama Museum Bali. Pengelola selanjutnya oleh yayasan Bali Museum diserahkan kepada pemerintah RI tanggal 5 Januari 1966. Koleksi benda, alat-alat, yang disimpan di Museum Bali dapat diklasifikasikan menjadi koleksi benda-benda prasejarah seperti kubur batu, koleksi benda-benda yang berasal jaman sejarah seperti: stupika tanah liat yang berisi mantra "Ye Te", arca-arca perunggu (arca Hinduis, Budhis) dan benda-benda ethnografi seperti: koleksi keris, kain endek, dan peralatan upacara keagamaan (sangku, cecepan, dan tempat ceccepan) dan topeng Sidakarya.
Baca Selengkapnya ...

Monumen (Museum) Perjuangan Rakyat Bali

Monumen ini dikenal juga dengan nama "Bajra Sandhi" karena bentuknya menyerupai bajra atau genta yang digunakan oleh para Pendeta Hindu dalam merapalkan Wedha pada upacara-upacara keagamaan. 
Monumen yang terletak di kawasan Lapangan Renon ini memang sangat menarik perhatian bagi semua orang karena tempatnya yang terawat dengan baik dan bersih dan lengkap dengan menara yang menjulang ke angkasa yang mempunyai arsitektur khas Bali yang indah. Lokasi monumen ini juga sangat strategis karena terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali yang juga di depan Gedung DPRD Provinsi Bali tepatnya di Lapangan Renon Nitimandala. Tempat ini merupakan tempat pertempuran jaman kemerdekaan antara rakyat Bali melawan pasukan penjajah. Perang ini terkenal dengan sebutan "Perang Puputan" yang berarti perang habis-habisan. Monumen ini didirikan untuk memberi penghormatan pada para pahlawan serta merupakan lambang penghormatan atas perjuangan rakyat Bali.
Berawal dari ide Dr. Ida Bagus Mantra yang saat itu adalah Gubernur Bali. Ia mencetuskan ide awalnya tentang museum dan monumen untuk perjuangan rakyat Bali. Monumen ini dibangun pada tahun 1987, diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 14 Juni 2003. Tujuan pembangunan monumen ini adalah untuk mengabadikan jiwa dan semangat perjuangan rakyat Bali, sekaligus menggali, memelihara, mengembangkan serta melestarikan budaya Bali untuk diwariskan kepada generasi penerus sebagai modal melangkah maju menepak dunia yang semakin sarat dengan tantangan dan hambatan.
Monumen ini berisikan 33 diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah dari masa Prasejarah (300.000 S.M)yang manusianya berpindah-pindah dan tergantung dengan alam, sampai pada masa mengisi kemerdekaan (1950-1975) dimana Bali membangun disegala bidang, yaitu politik, ekonomi dan sosial budaya.

Wujud fisik bangunan kental dengan makna falsafah Hindu, yakni Lingga-Yoni: monumennya sendiri sebagai lambang Lingga sedangkan dasar bangunan sebagai Yoni. Di samping Lingga-Yoni, tertera juga cerita Pemutaran Gunung Mandhara Giri di Ksirarnawa yang diablim dari petikan Adi Parawa.

Untuk memasuki monumen dengan luas bangunan 4.900 m2 dan luas tanah 138.830 m2 ini, setiap pengunjung dewasa dipungut tiket seharga Rp 2.000. Sedangkan Rp 1.000 untuk anak-anak. Sewaktu kita masuk ke dalam museum yang berada di monumen ini, kita akan melihat banyak hal yang menarik. Desain bagian dalam monumen juga tidak kalah bagusnya dengan bagian luarnya. Tampak juga wisatawan asing dan lokal yang sedang melihat-melihat koleksi tempat ini. Koleksi monumen ini adalah berbagai diorama yang menampilkan perjuangan rakyat Bali. Terdapat 17 diorama yang ada di monumen yang terletak di Jalan Raya Puputan Niti Mandala ini. Beberapa di antaranya mengisahkan perjuangan di zaman kerajaan di Bali dalam menentang penjajahan. Misalnya, Perang Jagaraga di Buleleng, Perang Puputan Badung hingga Pertempuran Puputan Klungkung.

Tak hanya itu, beberapa diorama juga menggambarkan sepak terjang rakyat Bali dalam mempertahankan kemerdekaan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Misalnya pertempuran di Pelabuhan Buleleng, Selat Bali hingga perang puputan Margarana dibawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai.

Selain diorama, tampak terlihat beberapa lukisan pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai dengan pasukannya. Di monumen yang juga merupakan museum dan dinamakan Bajra Sandhi ini juga terdapat perpustakaan, tempat belanja makanan khas Bali dan kerajinan Bali yang sayang sekali apabila Anda tidak membawa oleh-oleh sebagai buah tangan untuk dibawa pulang. Setelah itu, kita bisa mencoba menaiki menara yang tingginya puluhan meter itu. Dari atas menara kita bisa melihat pemandangan kota Denpasar dan aktifitas di Lapangan Renon dan sekitarnya. Setelah Anda puas menikmati semuanya dan Anda ingin pulang, jangan lupa untuk mengambil foto arsitektur Bali yang sangat khas di Monumen Perjuangan Rakyat Bali.
Baca Selengkapnya ...